Rahasia Kubah Hijau Masjid Nabawi
Ayo kita ungkap cerita di balik salah satu simbol paling ikonik di Madinah dan makna spiritual serta historisnya yang mendalam.
Masjid Al Nabawi, juga dikenal sebagai Masjid Nabi, terletak di kota suci Medina di Provinsi Al Madinah. Orang-orang selalu bertanya-tanya mengapa Masjid Al Nabawi begitu penting. Pentingnya terletak pada fakta bahwa Masjid Al Nabawi dibangun oleh Nabi Muhammad (SAW) setelah beliau hijrah dari Makkah ke Medina. Masjid ini adalah tempat peristirahatan Nabi (SAWW), bersama dengan para sahabatnya, termasuk Hazrat Abu Bakar (RA) dan Hazrat Umar (RA), serta banyak tempat suci seperti Mimbar dan Riyad ul Jannah (Sebagian Surga). Selain itu, tempat peristirahatan Hazrat Muhammad (SAWW) ditutupi dengan kubah hijau yang terkenal, sebuah simbol keyakinan yang bersinar dan menjulang di atas Masjid Al Nabawi, membuatnya dapat dikenali dari jarak jauh. Kubah ini, dengan warna hijau yang indah dan struktur yang menakjubkan, lebih dari sekadar landmark; ia merupakan representasi dari sejarah Islam dan pengaruh abadi dari kehidupan dan ajaran Hazrat Muhammad (SAWW).
Dalam blog ini, kita akan menyelami lebih dalam tentang sejarah, konstruksi, mitos, fakta, renovasi, dan informasi lebih lanjut tentang Kubah Hijau Masjid Al Nabawi. Teruslah membaca untuk menemukan lebih banyak!
Sejarah Kubah Hijau Masjid Al Nabawi
Dome Hijau, juga dikenal sebagai Kubbatul Hadra dalam bahasa Arab, adalah kubah raksasa yang terletak di atas makam Hazrat Muhammad (SAWW) di Masjid Al Nabawi. Kubah ini pertama kali dibangun pada tahun 1481 oleh Sultan Qa’itbay dan diperluas serta direnovasi pada tahun 1818 oleh Sultan Ottoman Mahmud II. Kubah tersebut dicat hijau pada tahun 1837 untuk membedakannya dari banyak kubah berwarna perak lainnya di masjid. Saat ini, ia berfungsi sebagai simbol penghormatan dan warisan Islam, dan warna uniknya membuatnya langsung dikenali oleh para pengunjung. Ini adalah titik fokus bagi para peziarah, terutama menandai tempat peristirahatan Nabi Muhammad (PBUH).
Konstruksi dan Arsitektur Kubah Hijau Masjid Al Nabawi
Masjid Al Nabawi Kubah Hijau telah diperluas dan berkembang seiring waktu dengan bantuan raja-raja yang menyusul. Atap Masjid Nabi awalnya datar; namun, di bawah Khalifah Umayyah Al Walid I, antara tahun 879 dan 895 Masehi, sebuah kubah dibangun di atas tempat peristirahatan Nabi Muhammad (SAWW) dan para sahabatnya. Kubah tersebut pertama kali dibangun dari kayu biasa, tetapi untuk membuatnya bertahan lebih lama, bahan-bahan yang lebih keras, termasuk batu bata dan timah, digunakan dalam rekonstruksinya. Sayangnya, pada tahun 1481, sebuah kebakaran besar merusak bagian-bagian masjid, dan masjid harus dibangun kembali sepenuhnya. Kubah kayu digantikan dengan pekerjaan bata yang lebih kuat, dan lembaran timah ditambahkan untuk perlindungan di bawah pemerintahan Sultan Mamluk Qaitbay. Peningkatan ini melindungi Kubah Hijau dari bencana alam dan kebakaran sambil menjaga bangunan suci tetap utuh untuk generasi mendatang untuk dihormati dan dikunjungi.
Pada tahun 1837, kubah dicat hijau, yang memberikannya tampilan yang khas dan dapat dikenali. Saat ini, itu adalah salah satu fitur paling terkenal dari Masjid Al Nabawi dan disukai oleh semua umat Muslim di seluruh dunia.
Bagian atas Kubah Hijau menampilkan hiasan emas yang meningkatkan kemegahan dan keanggunannya. Dekorasi ini dipasang oleh Sultan Mahmud II dari Kekaisaran Ottoman. Fitur-fitur bercahaya ini melambangkan signifikansi Masjid Nabi, dan para peziarah dapat melihatnya bersinar dari kejauhan.
Jendela Kubah Hijau
Kubah Hijau menutupi makam Nabi Muhammad (SAWW), dan di dalam kubah, terdapat sebuah jendela kecil yang terletak pada ketinggian kepala di atas makam Nabi. Ini adalah satu-satunya jendela di area makam dan memungkinkan hujan dan sinar matahari masuk ke tempat pemakaman, melambangkan hubungan Nabi dengan langit. Selama masa kelaparan yang parah di Madinah, Hazrat Ayesha (RA) menyatakan bahwa serat palma yang menutupi makam mungkin menghalangi kontak dengan langit. Akibatnya, serat palma diangkat dari atas makam, dan hujan turun selama tiga hari di Madinah. Jendela ini masih terbuka hingga hari ini dan ditutupi oleh jaring kawat untuk menjaga burung-burung keluar. Ini melambangkan tempat peristirahatan Nabi dan surga yang bersatu.
Mitos Tentang Kubah Hijau Masjid Al Nabawi
Mitos paling terkenal tentang Kubah Hijau Masjid Al Nabawi adalah bahwa beberapa orang percaya bahwa ada seorang pria yang dikuburkan di puncak kubah. Menurut cerita, dia berniat untuk merobohkan kubah; namun, petir menyambar dirinya dengan segera dan langsung membunuhnya. Dipercaya bahwa orang-orang tidak dapat mengeluarkan tubuh dari kubah, jadi sebuah makam dibuat di atas kubah. Sheikh Al Zubaidi menjelaskan cerita ini sebagai peringatan bagi semua orang yang mencoba merusak Masjid Nabi. Namun, cerita ini tidak benar, dan tidak ada makam di puncak Kubah Hijau. Ini hanya kebohongan yang disebarkan orang-orang.
Asal Usul Warna Hijau pada Kubah
Kubah Hijau yang terkenal dari Masjid Nabi tidak selalu berwarna hijau; awalnya dibangun dari kayu dan memiliki warna coklat alami. Seiring waktu, kubah tersebut dicat putih, biru, dan bahkan ungu selama berbagai restorasi yang menggabungkan peningkatan struktural dan estetika. Pada tahun 1837, kubah tersebut dicat hijau atas permintaan Sultan Ottoman Abd al-Hameed, memberikan warna yang sekarang ini. Nuansa hijau ini menjadi representasi Masjid Nabi dan menjadikannya sebagai landmark yang mudah dikenali, menarik jutaan Muslim ke Madinah setiap tahun.
Siapa Para Penjaga Kubah Hijau?
Area suci Hazrat Muhammad (SAWW) di bawah Kubah Hijau di Madinah selalu dilindungi dengan hati-hati. Di masa lalu, area ini dilindungi oleh kasim Abyssinia, yang juga dikenal sebagai Kasim. Mereka adalah pria tanpa testis yang menjalani kehidupan suci dan menyendiri serta jarang berbicara dengan orang lain. Mereka memegang kunci ruang dan memastikan makam tetap aman. Saat ini, penjaga keamanan resmi yang dikenal sebagai Askar telah mengambil posisi para kasim akibat undang-undang baru Saudi. Hanya ada beberapa kasim yang tersisa di Medina, dan pemerintah mendokumentasikan kehidupan mereka untuk melestarikan sejarah dan dedikasi mereka kepada Masjid Al Nabawi.
Apa Tantangan yang Dihadapi Kubah Hijau?
Kubah Hijau Masjid Nabi telah menghadapi banyak tantangan agama dan politik. Ketika pasukan Wahabi menguasai Madinah selama abad kesembilan belas, mereka menghancurkan beberapa makam dan kubah karena mereka tidak menyukai bangunan yang terkait dengan penyembahan makam. Namun, Kubah Hijau tetap ada. Beberapa orang mengklaim bahwa sulit untuk menghancurkannya karena desainnya yang kokoh, sementara yang lain berpendapat bahwa itu dipertahankan karena alasan hormat. Kemudian, pemerintah Saudi mengambil alih pada abad ke-20 dan memberlakukan pembatasan pada penyembahan makam; namun, kubah tersebut dibiarkan di tempatnya. Ini menjadikan Kubah Hijau sebagai penyintas unik dan representasi dari masa lalu masjid.
Pesan kamar Anda di Zowar International Hotel untuk kunjungan Anda ke Madinah.

